Pages

Labels

Minggu, 04 Maret 2012

PEMBENAHAN LAPANGAN KEBONAGUNG



Sudah lebih dari sebulan, Remassa secara rutin melakukan kerja bakti memperbaiki kondisi Lapangan Kebonagung Minggir yang selama ini dibiarkan 'mengenaskan'. Kondisi rumput yang lebat, tumpukan sampah dari warga sekitar yang kurang bertanggungjawab, serta adanya kubangan air yang diperparah karena lapangan digunakan untuk latihan mengemudi mobil.
Sungguh saat ironis, kondisi demikian dibiarkan saja padahal hampir setiap hari tempat tersebut digunakan untuk kegiatan olah raga siswa setidaknya dari lima sekolahan, SD Sendangagung, SD Muhammadiyah Tengahan, SD Kebonagung, SD Muhammadiyah Sragan, dan SD K Minggir. Selian itu setiap tahun digunakan untuk shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Kurangnya perhatian dari pemerintah desa dan warga sekitar mengakibatkan membuat kondisi lapangan tak terawat.
Hal ini menggerakan hati Remassa yang selama ini ikut memanfaatkannya sebagai tempat latihan sepakbola Remassa FC. Maka dengan inisiatif dan kesadaran sendiri, mereka mulai bekerja dengan merapikan rumput, membersihkan sampah-sampah, serta menutup kubangan air dengan menggunakan pasir.
Kegiatan yang digagas Remassa mendapat respon positif dari warga Nanggulan yang secara sukarela memberikan bantuan, berupa peminjaman alat pemotong rumput yang diusahakan oleh Bu Dwi Ismartuti, sumbangan pasir dari Bapak Marjito sebanyak dua rit, serta dukungan langsung dari Bapak Kasdi yang juga hadir di lapangan dan membelikan minuman.
Secara rutin setiap rabu sore, Remassa yang dikomandani Agung dan Hendri Cs, terus melakukan kegiatan perbaikan kondisi lapangan. Hasilnya saat ini lapangan telah lumayan bersih dan tertata, dan bisa digunakan untuk berlatih bola dengan nyaman. Sekarang hampir setiap sore lapangan ramai digunakan anak-anak untuk bermain bola.
Tetap semangat Remassa!

Sabtu, 21 Januari 2012

AL FIIL DI PADANG PASIR

Setelah berbagai upaya gagal dilakukan untuk menarik perhatian para peziarah datang ke Yaman. Pilihan terakhir pun diambil: menghancurkan sang pesaing! Ka'bah di Makkah yang ketika itu menjadi tempat tujuan para peziarah mencoba dirobohkan. Ya, itulah yang dilakukan Abrahah, raja yang dengan segala kekayaan dan kelebihannya ingin mengalihkan pusat ziarah dari Makkah ke Yaman. Abrahah membuat bangunan megah dan indah berharap dengan itu orang-orang akan tertarik, tetapi tetap saja sia-sia. Ka'bah tetap memiliki daya tarik tersendiri. Sebab berziarah ke Ka'bah memang menjadi syariat yang telah ditetapkan. Bangunan yang didirikan Nabi Ibrahim.

Dalam penyerangan yang dilakukan tepat ketika Rasulullah Muhammad SAW dilahirkan itu memang mengandung keganjilan sekaligus keajaiban. Ganjil karena Abrahah dan bala tentaranya mengendarai hewan yang tidak biasa: Gajah (Al Fiil). Ajaib, karena pada akhirnya datang pertolongan Allah untuk menyelamatkan Ka'bah, sekumpulan burung Ababil menghancurkan kegagahan Gajah.

Mengapa Abrahah memilih Gajah? Padahal semua orang tahu, hewan yang familier di Padang Pasir adalah unta dan kuda. Tetapi bukan itu yang dipilih Abrahah. Secara fisik, Gajah melambangkan kegagahan dan kebesaran. Inilah rupanya yang hendak diambil oleh Abrahah, ia ingin tampil gagah dengan mengendarai gajah. Tetapi ia lupa bahwa kegagahannya tak berarti apa-apa di hadapan Allah!

Sabtu, 14 Agustus 2010

Ramadhan Ceria Bersama Remassa

[Rnews] Panitia Ramadhan di Kampoeng Masjid Sabilul Muttaqin kembali beraksi. Kali ini tim kreatif yang digawangi poer cs. membuat gapura di jalan masuk gang menuju Masjid SM, selain itu juga memasang papan agenda yang semuanya dihiasi dengan lampu warna-warni.
Bukan iut saja, seblum datangnya ramadhan, masjid SM pun tidak luput dari kerja kreatif tim remassa, mulai dari dibersihkan sampai di cat ulang, sehingga keliatan lebih bersih rapi dan nyaman untuk digunakan beribadah. Karpetnya pun dicuci dan diberi pewangi. pokoknya oke punya. selamat untuk tim remassa.

Selasa, 16 Maret 2010

Sepotong Cerita Bersama Remassa


Ternyata waktu begitu cepat meninggalkanku. Tanpa mampu aku menghentikannya. Begitu banyak kisah, begitu banyak cerita. Mengalir dalam perjalanan hidupku. Kadang memberi warna ceria. Tapi sering pula mendatangkan rasa sedih.
Kisah-kisah yang telah aku lewati bersama kawan-kawan Remassa, seolah begitu lekat dan tak mudah untuk aku lupakan. Menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidupku. Foto-foto ini memberikan kesan bahwa masa-masa itu baru kemarin kami jalani. Penuh canda-tawa, suka-cita. Biarpun kini kami terpisah jarak dan waktu. Berpencar ratusan kilometer, bahkan antar pulau dan negara. Tapi kenangan itu akan selalu hidup, dan abadi di hati kami.
Sepotong Cerita Bersama Remassa.
- Hiking ke Goa Sriti 2009
- Idul Fitri 2007
- Outbond di PPSJ Sentolo 2009
- Remassa Fun Bike di Ancol Bligo Jawa Tengah

Senin, 19 Oktober 2009

Remassa FC Mulai Berlatih


Remassa FC kembali berlatih setelah sempat vakum beberapa waktu. sebelumnya pada sabtu, 17/10/09 mengadakan rapat perencanaan untuk memulai latihan. Dalam pertemuan itu dibahas beberapa kendala yang dihadapi, sekaligus diadakan reshuffle pengurus. Terpilih Irvan Ardiayanto sebagai ketua. Diputuskan juga untuk mengumpulkan dana guna menyediakan fasilitas berupa bola. Akhirnya pada ahad, 18/10/09 terkumpul dana lebih dari 100 ribu dan digunakan untuk membeli bola. Salah satunya adalah sumbangan dari salah satu warga yang peduli dengan Remassa.
Pada ahad, 18/10/09 pun latihan dimulai bertempat di Lapangan Kebonagung Minggir Sleman. Pada latihan perdana tersebut diikuti oleh cukup banyak anggota Remassa FC.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Nanggulan, Dusun Bersejarah yang Terlupakan

Letaknya jauh di ujung barat Kabupaten Sleman. Sekitar 20 Km dari pusat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk menjangkaunya cukup mudah jika Anda menempuh jalan dari Tugu Yogyakarta. Dengan mengikuti jalan lurus ke Barat, dan setelah melewati setidaknya 8 trafic light, sebelum jembatan Kebonagung 1 (Jembatan Ngapak) mengambil arah kanan, Anda akan menemukan Dusun Nanggulan. Tepatnya, Dusun Nanggulan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
Dusun yang masih menyimpan keasrian dengan suasana pedesaan. Hamparan sawah mengelilingi. Jika Anda mengedarkan pandang ke barat, akan tampak panorama Pegunungan Menoreh yang membujur dari utara ke selatan. Di sebelah barat dusun membentang Sungai Progo dengan segala kehasannya. Batu-batu yang besar dengan pasir menghitam berserakan di tepian. Dan Air yang jernih. Atau ikan-ikannya yang terkenal lezat untuk disantap.
Bagi generasi kini, tidak banyak yang tahu bahwa dusun ini menyimpan sejarah penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Terutama pada awal masa kemerdekaan. Dusun ini hanya dipandang sama seperti dusun-dusun lain yang tidak penting untuk diceritakan. Barangkali bagi generasi kini Nanggulan hanya dikenal sebagai dusun yang termasuk maju dalam beberapa hal pada lingkup tertentu.
Dengan luas wilayah yang termasuk terluas di Sendangagung, Nanggulan memang memiliki beberapa keunggulan. Jumlah penduduknya lebih dari 500 orang atau kurang lebih 200 KK. Terbagi dalam 6 Rt dan 3 Rw. Dengan jumlah itu pemenuhan SDM untuk berbagai kegiatan pun cukup terbantu. Misal dalam berbagai lomba keagamaan, kesenian atau olah raga cukup mudah untuk memilih wakil yang dianggap terbaik. Tidak heran bila dalam lingkup Desa/Kecamatan, Nanggulan sering mendapatkan prestasi lumayan.
Dari segi pembinaan SDM juga demikian. Salah satu aset yang sangat berharga adalah adanya SD Sendangagung, yang konon dulunya dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Termasuk SD tertua yang ada di Kecamatan Minggir. Pun dalam bidang pendidikan keagamaan, Nanggulan memiliki 1 masjid dan 2 mushalla. Yakni, Masjid Sabilul Muttaqin, Mushalla Al Baqarah dan Mushalla Nurul Huda. Sedangan kegiatan keagamaan yang ada yakni: TPA/Madrasah Sabilul Muttaqin, Pengajian Remaja Masjid (setiap malam jumat), Pengajian Yasinan untuk bapak-bapak (setiap malam Jumat), pengajian Yasinan ibu-ibu (setiap malam jumat), pengajian rutin bulanan bapak-bapak (setiap tanggal 10-an), pengajian padang bulan khusus ibu-ibu (setiap tanggal 15 hijriyah) dan pengajian lain yang bersifat insidental. Semua itu dilakukan dengan harapan Nanggulan dapat menjadi the religious village, sehingga tercipta ketentraman dan kedamaian hidup.

Nanggulan dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
Pada awal-awal kemerdekaan Dusun Nanggulan pernah menjadi salah satu tempat untuk pendidikan bagi calon anggota Kepolisian Republik Indonesia. Menurut pelaku sejarah yang sempat kami wawancarai. Pada waktu itu kepolisian dan masyarakat sekitar saling bantu-membantu agar pendidikan bagi anggota polisi dapat berjalan dengan baik. Sehingga mereka rela menyumbangkan bahan makanan atau yang lainnya.
Satu hal yang cukup unik adalah pada waktu itu minim sekali para pemuda yang bersedia menjadi polisi, sangat berbeda dengan saat ini. Tidak heran bila pada waktu itu beberapa calon yang semula dianggap tidak lolos seleksi akhirnya dipanggil kembali untuk mengikuti pendidikan. Ketidakbersediaan para pemuda atau masyarakat saat itu dapat dipahami karena tugas polisi memang berat. Mereka tidak hanya berkewajiban menjaga keamanan negara tetapi juga turut serta bersama TNI mempertahankan kemerdekaan. Tidak heran jika satu waktu mereka ditempatkan di barisan depan, berhadapan langsung dengan serdadu Belanda.
Keunikan yang lain, entah disengaja atau tidak saat ini Dusun Nanggulan juga termasuk salah satu Dusun dengan warga yang menjadi Polisi cukup banyak. Baik yang berdinas di lingkungan POLDA DIY maupun di luar daerah.
Salah satu peninggalan sejarah yang dapat disaksikan samapi kini adalah, sebuah rumah joglo di Dusun Nanggulan yang dahulu merupakan komplek tempat pendidikan. Peninggalan yang lain dapat juga disaksikan di Monumen Yogya Kembali, berupa seperangkat meja-kursi dan senthir (lampu minyak) yang dahulu digunakan pada masa pendidikan Polri di Nanggulan. Meja dan senthir tersebut disumbangkan ke Monumen Yogya Kembali oleh keluarga R. Sukapsir Martobronto, yang juga saat ini menempati komplek rumah joglo tersebut.
Sebagai hadiah, sebetulnya kepolisian RI pernah memberikan bantuan berupa pembangunan prasasti yang kemudian diwujudkan dalam bentuk Gedung Serbaguna, dan agar lebih bermanfaat bagi orang banyak, akhirnya Gedung itu dibangun di pusat kalurahan Sendangagung. Sehingga tidak heran sampai sekarang Anda tidak akan menemukan prasasti apapun di Dusun Nanggulan yang menandakan bahwa di sana pernah menjadi tempat pendidikan anggota POLRI. Menjadi bagian dari sejarah POLRI dan juga bangsa Indonesia.
Itulah, Dusun Nanggulan. Dusun bersejarah yang terlupakan.
[ditulis oleh eko triyanto. Kritik dan saran bisa dialamatkan ke:
remassa313@gmail.com]

Syuting Film ‘Negeri Ilalang’ Akhirnya Dihentikan Sementara


Remassa Production akhirnya menghentikan untuk sementara produksi film Negeri Ilalang. Penghentian itu terkait dengan adanya beberapa kendala, terutama minimnya SDM yang ada. Menurut salah satu sutradara film tersebut, Anggia Vindrisasi ketika diwawancarai menyebutkan kemungkinan produksi akan dilanjutkan pada libur semester mendatang.
Film yang bercerita tentang dilema para perantau dan kecintaan terhadap kampung halaman tersebut semula direncanakan selesai sebelum idul fitri sehingga dapat diputar saat syawwalan jamaah. Tetap produksi terpaksa dihentikan karena schedule mengalami perubahan dan penundanaan.
Meskipun proyek tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan akan tetapi sebagai bentuk kreativitas dan ajang pengekspresian diri secara positif tentu harus tetap mendapat dukungan.
[selamat berkarya untuk remassa production crew]