Pages

Labels

Selasa, 16 Maret 2010

Sepotong Cerita Bersama Remassa


Ternyata waktu begitu cepat meninggalkanku. Tanpa mampu aku menghentikannya. Begitu banyak kisah, begitu banyak cerita. Mengalir dalam perjalanan hidupku. Kadang memberi warna ceria. Tapi sering pula mendatangkan rasa sedih.
Kisah-kisah yang telah aku lewati bersama kawan-kawan Remassa, seolah begitu lekat dan tak mudah untuk aku lupakan. Menjadi bagian dari sejarah perjalanan hidupku. Foto-foto ini memberikan kesan bahwa masa-masa itu baru kemarin kami jalani. Penuh canda-tawa, suka-cita. Biarpun kini kami terpisah jarak dan waktu. Berpencar ratusan kilometer, bahkan antar pulau dan negara. Tapi kenangan itu akan selalu hidup, dan abadi di hati kami.
Sepotong Cerita Bersama Remassa.
- Hiking ke Goa Sriti 2009
- Idul Fitri 2007
- Outbond di PPSJ Sentolo 2009
- Remassa Fun Bike di Ancol Bligo Jawa Tengah

Senin, 19 Oktober 2009

Remassa FC Mulai Berlatih


Remassa FC kembali berlatih setelah sempat vakum beberapa waktu. sebelumnya pada sabtu, 17/10/09 mengadakan rapat perencanaan untuk memulai latihan. Dalam pertemuan itu dibahas beberapa kendala yang dihadapi, sekaligus diadakan reshuffle pengurus. Terpilih Irvan Ardiayanto sebagai ketua. Diputuskan juga untuk mengumpulkan dana guna menyediakan fasilitas berupa bola. Akhirnya pada ahad, 18/10/09 terkumpul dana lebih dari 100 ribu dan digunakan untuk membeli bola. Salah satunya adalah sumbangan dari salah satu warga yang peduli dengan Remassa.
Pada ahad, 18/10/09 pun latihan dimulai bertempat di Lapangan Kebonagung Minggir Sleman. Pada latihan perdana tersebut diikuti oleh cukup banyak anggota Remassa FC.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Nanggulan, Dusun Bersejarah yang Terlupakan

Letaknya jauh di ujung barat Kabupaten Sleman. Sekitar 20 Km dari pusat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk menjangkaunya cukup mudah jika Anda menempuh jalan dari Tugu Yogyakarta. Dengan mengikuti jalan lurus ke Barat, dan setelah melewati setidaknya 8 trafic light, sebelum jembatan Kebonagung 1 (Jembatan Ngapak) mengambil arah kanan, Anda akan menemukan Dusun Nanggulan. Tepatnya, Dusun Nanggulan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman.
Dusun yang masih menyimpan keasrian dengan suasana pedesaan. Hamparan sawah mengelilingi. Jika Anda mengedarkan pandang ke barat, akan tampak panorama Pegunungan Menoreh yang membujur dari utara ke selatan. Di sebelah barat dusun membentang Sungai Progo dengan segala kehasannya. Batu-batu yang besar dengan pasir menghitam berserakan di tepian. Dan Air yang jernih. Atau ikan-ikannya yang terkenal lezat untuk disantap.
Bagi generasi kini, tidak banyak yang tahu bahwa dusun ini menyimpan sejarah penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Terutama pada awal masa kemerdekaan. Dusun ini hanya dipandang sama seperti dusun-dusun lain yang tidak penting untuk diceritakan. Barangkali bagi generasi kini Nanggulan hanya dikenal sebagai dusun yang termasuk maju dalam beberapa hal pada lingkup tertentu.
Dengan luas wilayah yang termasuk terluas di Sendangagung, Nanggulan memang memiliki beberapa keunggulan. Jumlah penduduknya lebih dari 500 orang atau kurang lebih 200 KK. Terbagi dalam 6 Rt dan 3 Rw. Dengan jumlah itu pemenuhan SDM untuk berbagai kegiatan pun cukup terbantu. Misal dalam berbagai lomba keagamaan, kesenian atau olah raga cukup mudah untuk memilih wakil yang dianggap terbaik. Tidak heran bila dalam lingkup Desa/Kecamatan, Nanggulan sering mendapatkan prestasi lumayan.
Dari segi pembinaan SDM juga demikian. Salah satu aset yang sangat berharga adalah adanya SD Sendangagung, yang konon dulunya dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Termasuk SD tertua yang ada di Kecamatan Minggir. Pun dalam bidang pendidikan keagamaan, Nanggulan memiliki 1 masjid dan 2 mushalla. Yakni, Masjid Sabilul Muttaqin, Mushalla Al Baqarah dan Mushalla Nurul Huda. Sedangan kegiatan keagamaan yang ada yakni: TPA/Madrasah Sabilul Muttaqin, Pengajian Remaja Masjid (setiap malam jumat), Pengajian Yasinan untuk bapak-bapak (setiap malam Jumat), pengajian Yasinan ibu-ibu (setiap malam jumat), pengajian rutin bulanan bapak-bapak (setiap tanggal 10-an), pengajian padang bulan khusus ibu-ibu (setiap tanggal 15 hijriyah) dan pengajian lain yang bersifat insidental. Semua itu dilakukan dengan harapan Nanggulan dapat menjadi the religious village, sehingga tercipta ketentraman dan kedamaian hidup.

Nanggulan dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
Pada awal-awal kemerdekaan Dusun Nanggulan pernah menjadi salah satu tempat untuk pendidikan bagi calon anggota Kepolisian Republik Indonesia. Menurut pelaku sejarah yang sempat kami wawancarai. Pada waktu itu kepolisian dan masyarakat sekitar saling bantu-membantu agar pendidikan bagi anggota polisi dapat berjalan dengan baik. Sehingga mereka rela menyumbangkan bahan makanan atau yang lainnya.
Satu hal yang cukup unik adalah pada waktu itu minim sekali para pemuda yang bersedia menjadi polisi, sangat berbeda dengan saat ini. Tidak heran bila pada waktu itu beberapa calon yang semula dianggap tidak lolos seleksi akhirnya dipanggil kembali untuk mengikuti pendidikan. Ketidakbersediaan para pemuda atau masyarakat saat itu dapat dipahami karena tugas polisi memang berat. Mereka tidak hanya berkewajiban menjaga keamanan negara tetapi juga turut serta bersama TNI mempertahankan kemerdekaan. Tidak heran jika satu waktu mereka ditempatkan di barisan depan, berhadapan langsung dengan serdadu Belanda.
Keunikan yang lain, entah disengaja atau tidak saat ini Dusun Nanggulan juga termasuk salah satu Dusun dengan warga yang menjadi Polisi cukup banyak. Baik yang berdinas di lingkungan POLDA DIY maupun di luar daerah.
Salah satu peninggalan sejarah yang dapat disaksikan samapi kini adalah, sebuah rumah joglo di Dusun Nanggulan yang dahulu merupakan komplek tempat pendidikan. Peninggalan yang lain dapat juga disaksikan di Monumen Yogya Kembali, berupa seperangkat meja-kursi dan senthir (lampu minyak) yang dahulu digunakan pada masa pendidikan Polri di Nanggulan. Meja dan senthir tersebut disumbangkan ke Monumen Yogya Kembali oleh keluarga R. Sukapsir Martobronto, yang juga saat ini menempati komplek rumah joglo tersebut.
Sebagai hadiah, sebetulnya kepolisian RI pernah memberikan bantuan berupa pembangunan prasasti yang kemudian diwujudkan dalam bentuk Gedung Serbaguna, dan agar lebih bermanfaat bagi orang banyak, akhirnya Gedung itu dibangun di pusat kalurahan Sendangagung. Sehingga tidak heran sampai sekarang Anda tidak akan menemukan prasasti apapun di Dusun Nanggulan yang menandakan bahwa di sana pernah menjadi tempat pendidikan anggota POLRI. Menjadi bagian dari sejarah POLRI dan juga bangsa Indonesia.
Itulah, Dusun Nanggulan. Dusun bersejarah yang terlupakan.
[ditulis oleh eko triyanto. Kritik dan saran bisa dialamatkan ke:
remassa313@gmail.com]

Syuting Film ‘Negeri Ilalang’ Akhirnya Dihentikan Sementara


Remassa Production akhirnya menghentikan untuk sementara produksi film Negeri Ilalang. Penghentian itu terkait dengan adanya beberapa kendala, terutama minimnya SDM yang ada. Menurut salah satu sutradara film tersebut, Anggia Vindrisasi ketika diwawancarai menyebutkan kemungkinan produksi akan dilanjutkan pada libur semester mendatang.
Film yang bercerita tentang dilema para perantau dan kecintaan terhadap kampung halaman tersebut semula direncanakan selesai sebelum idul fitri sehingga dapat diputar saat syawwalan jamaah. Tetap produksi terpaksa dihentikan karena schedule mengalami perubahan dan penundanaan.
Meskipun proyek tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan akan tetapi sebagai bentuk kreativitas dan ajang pengekspresian diri secara positif tentu harus tetap mendapat dukungan.
[selamat berkarya untuk remassa production crew]

Meski Listrik Sempat Padam, Pengajian Rutin Remassa Tetap Jalan

Pengajian rutin Remassa putaran kedua sempat diawali dengan padamnya listrik. Pengajian yang diadakan pada kamis, (8/10) tersebut bertempat di rumah Dwi Atmoko (profilnya pernah dimuat di Harian Kompas, silakan lihat di www.kompascybermedia.com/www.kompas.com). Meski listrik padam akan tetapi cukup banyak peserta yang hadir. Dalam pengajian putaran kedua ini lebih banyak melakukan koordinasi untuk pelaksanaan pengajian rutin selanjutnya.

Lebih Dekat dengan Supriyadi, Wakil Ketua Remassa


Supriyadi, lahir di Sleman 27 Oktober 1986. Anak bungsu dari dua bersaudara pasangan Hamdani dan Sri Supartinah (alm). Menyelesaikan pendidikan SD samapi dengan SLTA di sekolah-sekolah negeri yang ada di Kecamatan Minggir. Selepas SMA kemudian menyelesaikan program profesi chef di Budi Mulia Dua Culinary School, salah satu sekolah yang dirintis dan dikelola oleh Prof. Dr. Amien Rais.
Saat ini Supriyadi menekuni bidang wiraswasta di usianya yang masih muda. Salah satu hobinya adalah menulis baik artikel maupun dalam bidang sastra yakni puisi dan cerpen.

Kamis, 08 Oktober 2009

'Ibrah dari Gempa

Bencana bisa jadi merupakan teguran dari Allah untuk hamba-Nya agar kembali ke jalan yang lurus.


Gempa Tasik pukul : 15: 04

“Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan.” (QS. Al Hijr [15]:4)


Gempa Padang pukul: 17:16

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al Israa’ [17]: 16)


Gempa Susulan pukul: 17: 58

“Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (Al Israa’: [17]: 58)


Gempa Jambi pukul: 8: 52

“(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir'aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.” (Al Anfaal [8]: 52)

Taken from: abu fatah on line